Peran Akal Budi & Hati

Posted on July 2, 2011

2


Judul blog Alkitabkita adalah Kupas Cerdas, apakah itu berarti hanya manusia cerdas yang bisa mengupas isi alkitab? ataukah Alkitab Firman Tuhan yang menjadikan kita berbijaksana dan berhikmat? ataukah invisible hand of God yang menggerakkan kita untuk mengenal Alkitab sehingga berbijaksana untuk menyelami karya-Nya yang ajaib?

Alkitab menegaskan bahwa setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, baik pikiran, akal budi, hati dan tujuan hidup manusia melenceng dari tujuan awalnya untuk memuliakan Penciptanya. John Calvin, seorang reformator dan penafsir Alkitab yang baik, menegaskan bahwa citra manusia mengalami kerusakan total (total depravity) walaupun peta dan teladan Allah itu tetap ada dalam citra manusia.

Bagaimana menggunakan hati yang sudah terdistorsi, lingkungan yang sudah terpolusi dosa dan akal budi yang tidak murni lagi untuk mengenal Allah yang sejati dalam Alkitab kita? Maka jawabnya adalah hanya oleh anugerah dan pertolongan Tuhan semata saja. Itu mengapa, saya pribadi percaya konsep predestinasi Alkitab (Roma 8:29, 30; Efesus 1:5, 11) dalam konteks kedaulatan dan anugerah Allah, bahwa ada yang dipilih untuk mengikut-Nya. Orang-orang pilihan atau umat Allah inilah yang secara ajaib dipimpin dan dibimbing hand by hand, heart by heart, mind by mind oleh Roh Kudus untuk “dimampukan” membaca, mengerti, memahami Alkitab.

Allah pulalah yang menjadikan seseorang bisa rendah hati untuk mengenal-Nya. Saya sedikit bercerita pengalaman sendiri, saya mengenal seorang pendeta, doktor lulusan Belanda yang belajar teologi Liberalisme, mantan dosen STT Jakarta. Otaknya sangat pintar dan cerdas namun pada akhirnya ia memutuskan meninggalkan Tuhan karena dari doktrin liberal yang memakai standar science dan teknologi sebagai alat kritik, seolah-olah mendapatkan “ilham baru” bahwa suatu saat Allah akan mati dan ditinggalkan, tergantikan oleh high tech. Peristiwa tersebut mengubah cara pandang saya, bahwa apa yang Alkitab tuliskan benar adanya, ada yang dipilih, ada yang yang dibiarkan berjalan sendiri dalam kesesatannya.

Akal budi adalah anugerah Tuhan dan harus ditundukkan pada wibawa Tuhan. Ditundukkan bukan berarti dihilangkan seperti banyak terjadi pada pengajaran Kharismatik saat ini, yang umumnya lebih mementingkan suasana dan emosi meluap-luap dalam ibadah. Teologia reformed mengajarkan kita untuk memiliki hati yang mencintai Tuhan dan menjadi seorang yang bersikap rasional tapi bukan rasionalis.

Agustinus menegaskan, “Aku percaya, maka aku mengerti; dan aku mengerti sehingga bisa lebih percaya lagi”. Pikiran ini diklimakskan oleh John Calvin, pendiri Teologia Reformed, dengan mengatakan iman menuntut pengertian. 

Semoga blog Alkitabkita menjadi sarana Tuhan membentuk akal budi dan hati kita. Amen

(rsm)